Gericik menderas meluncuri jalanan. Menghitung langkah yang tergesa menjejaki jalanan sudirman, pagi ini. Dingin yang tak ramah, merambati punggung menggeliat merembesi baju katun putihku.Putihnya, membuatmu selalu teringat pada kembang-kembang Melati yang lelah berguguran sepanjang taman.
Tapak-tapak trotoar yang kujejaki,pecah di ujung sepatuku.Percikan air tergenang lalu tertampar, mengagetkan perempuan tua yang sedang duduk merenungi bis-bis yang melaju liar. Mata marahnya menerobos lingkaran payung yang kugenggam. Serapah kesalnya menyeberangi jalanan yang licin. " Ah ..nenek...,takkah kau lihat hujan juga tergenang di sudut mataku. Deras menggelincir menyusuri lekuk pipiku yang basah. Beberapa tahun lalu, ada tangan lain yang selalu menggenggamkan payung untukku. "Ah..nenek, takkah kau lihat jemariku gemetar menahankan hembusan angin yang kencang".
Tapak-tapak trotoar yang kujejaki, pecah lagi di ujung sepatuku. Masih ada 2 ruas jalan lagi yang harus kulangkahi dalam sendu yang kian mengkristal. Masih ada beberapa tempat lagi, tempat kita biasa menghitung hujan, harus kulintasi. Masih ada lagi titisan panjang, jalan-jalan beku, yang harus kuselami kedalamannya. Tanpamu, kasih.....
Tetesan air hujan makin menggemuruh menyelisip masuk meremukkan hati. Menggapai sisa-sisa kesadaran yang tak mau mengakui kehilanganmu. Merentangkan penyesalan yang bersanding dengan kepedihan. Perih,menggigit,merejam kejam.
Pintu ruangan tempat kita selalu bersama sudah di ujung perjalananku. Perlahan, kubuka dengan pandangan sayu, pintu kaca yang selalu menjadi saksi janji-janji kita dengan pantulannya yang malu-malu. Dan berharap kau ada berdiri di sana seperti biasanya, dengan senyuman berbinar-binar yang membuat jengah matahari. Dengan pandangan mata yang jernihnya melabuhkan pesona kehijauan rumput-rumput basah. Dengan kehangatan suara berkidung tanya bagaimana khabarku hari itu.
Tapi, seperti sudah 3 tahun terakhir ini, harapanku bagai titik embun menggelepar di panas matahari, menghilang tanpa bekas ke titian udara pagi. Tak ada kau, dan senyum mataharimu, dan sinar mata hijaumu, dan kidung suaramu yang hangat, berdiri disana. Tak ada kau di balik pintu kaca itu.
Yang ada hanya jarak ribuan kilometer memisahkan mimpi-mimpi yang pernah terucap. Yang ada hanya seribu perbedaan, yang merentangkan jarak makin panjang antara dua hati. Yang ada hanya kesadaran akan perbedaan, antara dasi panjangku dan pertanyaanmu terus menerus...
Kulangkahkan kaki mengitari ruangan-ruangan kantor yang bisu berdinding kelabu, sambil berusaha menghindari semarak tawa dan canda yang bertebaran di tiap wajah yang kulewati. Menundukkan wajah sedalam dada, sambil meremas ujung tas netbook hitam hadiah kecil darimu. Tergesa kututup rapat pintu kamar kerjaku, seperti rapatnya hatimu yang tak sudi mengalah menjembatani perbedaan.
Duduk sendiri di meja ini, berusaha menemukan kembali irama kehidupan yang bait-baitnya sudah menghilang sebulan ini. Merangkai lagi kekuatan untuk berdiri tegak dan mengatur nafas, mengejar kehidupan yang pernah kumiliki sebelum kau datang dalam hidupku. " Ahhhh.....tapi mengapa nafasku masih tetap sesak, deburan dada masih tak sanggup melampaui batas-batas waktu ".
Bayangan saat-saat akhir perbedaan kata di antara kita, antara dasi panjangku dan kain sutra yang menutup kepalamu serta harapanmu tentang angin segar yang seharusnya menyelisip di antara bunga-bunga yang kau letakkan di di sudut kamarku, antara ketidaksabaranmu saat menunggui aku bercerita pada Tuhan di shalat-shalatku dan cerita-cerita surga neraka yang kubagi padamu lalu kau anggap lucu tak bermakna.
Kepedihan di gelap mataku dan desah kecewaku, kau selesaikan dengan,"Mari menantang badai, berkejaran berlomba menyentuh sinar matahari yang melebur dengan mimpi kita berdua, toh Tuhan hanya ucapan manis di bibir merah. Biarkan perbedaan ini menjadi saksi suatu peradaban sekeras karang yang tegar menghentak gelombang.
Kalau saja karang tegar mengerti dan tahu diri, bahwa ombaklah yang membawa kesejukan di panas matahari, membasuhnya perlahan dengan riak lembut dan memecah putih berbuih. Begitu lama ombak mencoba menyapa karang dengan irama yang berbeda, saat nyiur melambaikan tangan memanggil angin agar mendinginkan karang.
Lalu ketika kukatakan bagaimana menikmati keindahan dalam ragu, bagaimana menggulirkan mimpi dalam penjara nurani, bagaimana berkhayal diantara tajamnya duri-duri rasa bersalah bersiap menusuk imajinasi.
"Ahhhh.....tapi mengapa nafasku masih tetap sesak, deburan dada masih tak sanggup melampaui batas-batas waktu".
Mata marahmu dingin bagai malam padang pasir, menghujam diam membisu, saat kukatakan aku mencintaimu tulus dengan kesadaran sedalam samudera. Dan mencoba mengertiNya dalam kalimat-kalimat Tauhid yang meremas batin yang begitu rapuh.
Mata marahmu dingin bagai malam padang pasir, lalu gelora gelombang api mengayunmu pergi dari sisiku. Mengangkatmu pergi ribuan kilometer terbawa gemuruh kekerasan hatimu. Meninggalkan hati yang kelu pecah berserakan kepingnya. Aku terpaku sendiri dalam sepi.
Gericik air masih menderas meluncuri jalanan, di luar sana. Kucoba menghitung hujan, sendiri dalam kesenduan yang membungkam perasaan. Ragu memenuhi bilik kalbu, ada ribuan pertanyaan tentang kebenaran melilit benakku.
Kasih, kau bukan lagi milikku, bukan tempat aku melabuhkan cemas, bukan tempat aku menyimpan mimpi di urat nadimu.
Kasih, kurelakan jejak langkahmu mengikuti angin pagi yang berputaran di ujung gelombang. Bergegas pergi mengelilingi dunia. Toh, jalan kita selalu berbeda.
" Ahhhh.....tapi mengapa nafasku masih tetap sesak, deburan dada masih tak sanggup melampaui batas-batas waktu ".
------+++-----
Lalu tiba-tiba deringan di telpon selulerku dan barisan kata-kata terpampang di layar pesan, membuatku terkejut :
" Ah, seandainya waktu berpihak, maukah kau terima kata maafku yang selama ini telah tertunda, dari ujung lidah yang selalu kelu tak mampu mengucapkannya. Mari menyamakan langkah, dan mari berbincang tentang persamaan kita. Aku rindu menghitung hujan...pagi ini disana, denganmu kekasih ".
.










0 komentar:
Posting Komentar