Selasa, 01 Juni 2010

Di tanah ini

Pagi ini,seperti biasa aku telah terbangun dari istirahatku yang tak pernah sekalipun tidur.Temanku,sang surya,keluar dari singgasananya membangunkan alam dan manusia-manusia yang masih menguap panjang menyayangkan betapa cepatnya sang waktu berlalu.Aku hanya memandang lesu pada setiap kegiatan yang mereka jalani.Tak ada perubahan.Masih dengan tingkat kepercayaan yang begitu tinggi,dan mereka pun berjalan mantap menuju tempat pergulatannya,tentu meski dengan uapan yang masih panjang.Aku lebih tertarik pada apa yang sedang terjadi di seberang sana.Seorang bocah berumur sekitar 8 tahun,dengan pakaian kebesarannya,berjalan riang menyeberangi jalan raya yang masih lengang.Aku tak sepenuhnya paham,apa yang bocah itu pikirkan,tapi aku yakin,ada terselip sebuah kesedihan yang teramat jauh di lubuk hatinya.Terus aku amati tiap detail gerakannya.Pikirannya cerdas,namun hatinya terbatas.Aku tau,keinginannya untuk satu hal ini cukup besar.Ku lirik orang-orang di seberang tadi,asap rokok berkeliaran di sana-sini,padahal hari masih cukup pagi,dan aroma tawa menghiasi bangunan-bangunan nan anggun yang dalam penglihatanku hanya seperti sepotong kardus rombeng yang ditutupi oleh kewibawaan,ah ya..kesilauan lebih tepatnya.Sedangkan di depan bocah itu,ku saksikan sebuah bangunan mungil yang hanya sepetak,namun ku rasakan tembok beton yang kokoh dan tak mudah rapuh yang sebenarnya ada..

Semangatnya menggebu,meski terkadang nyamuk-nyamuk yang nakal itu mengurangi suplai darah yang begitu berharga dari tubuhnya.
Pemandangan ini selalu ku temui tiap hari.Dua sisi yang sangat bertolak belakang dan tak seimbang.Dua sisi yang sering luput dari perhatian orang-orang.Aku sangat sering berpikir,sampai kapan ketimpangan ini akan berlanjut?seorang bocah yang sangat bersemangat dan orang-orang perlente yang mengenakan segala fasilitas kebesarannya namun tanpa sebuah makna yang berarti.
Di sini,aku selalu menjadi saksi,bahwa yang maju akan semakin maju,dan yang mundur akan semakin mundur.Tapi kalimat itu tak bisa dijadikan tolok ukur seberapa bagus kadar kualitas seseorang.Aku yakin itu..
Hanya saja,yang maju akan terus ditempa,sedang yang mundur akan dilupakan.Sampai kapan ini akan terjadi?sampai kapan bumi ini akan menjadi saksi sebuah ketidakadilan?
Ah,tapi aku hanya bisa bersaksi dan mendengar keluhan kaum bocah itu,juga tawa bahagia mereka yang tak pernah peduli dengan lainnya.
Karena aku memang dicipta untuk itu..
.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites