7.36
Aku merasakan hal yang sama, seakan di sekelilingku waktu melambat hingga aku bisa menyambut tiap kata yang terlepas dari udara dan meletakannya pada bingkai dan kuletakkan pada jendela hatiku.
10.35
Senang mengenalmu, sedih tuk mengerti keadaanmu, hidup kadang berlaku tak adil bagiku, dimana aku selalu dianiaya oleh keadaan yang terlalu di dramatisir, kenapa aku harus mengetahui semua ini di akhir pertemuanku? Tak ada lagi denyut nadi tuk percaya bahwa satu titik bahagia membawa aku tuk terperanjat dalam lorong gelap, suram kesepian dan kesedihan menyiksaku bergantian.
10.45
Tak usahlah sedih bersarang di pelupuk dukamu, lihatlah hujan telah reda, langit telah terbuka, sebentar lagi pelangi akan tiba, kepakan kata semangat bersayap-sayap dari dadamu..menyambut semua yang sudah ada sejak awal. Sekarang kau tiba pada gerbang yang seharusnya kau tuju, jangan hiraukan aku, dengan kereta ku yang sempat terhenti di stasiun tua di kotamu, karena aku kan segera pergi, pergi bersama senja sore ini, dimana langit memerah dan matahari menutup mata.
10.53
Tiap babak dalam drama hidupku kulalui tanpa ku tau ujung pangkalnya, aku seperti anak kecil yang bermain-main dan terjebak dalam labirin kegilaanku sendiri, labirin yang aku buat sendiri dan akulah orang yang tersesat disana, sungguh nista tak terbantahkan. Biarkan pohon perdu terus rindang disebelah gunung sana, biarkan pohon oak tergerus daunnya saat musim gugur tiba, biarlah semua jawaban itu mengalir menghampirimu pada waktunya..
11.19
Pagi tadi hujan terlalu deras, menuai sepi berkepanjangan hingga siang adzan berkumandang, hilir mudik orang-orang pergi beribadah jumat. Hanya aku seorang tak berkutik bersembunyi diantara jendela kamarku memandang kosong langit kelabu peninggalan hujan tadi pagi, aku seakan pergi dalam khayalanku sendiri melayang tinggi diatas lapisan tipis strafosfer langit kota ku hari ini. Aku mengambang mencoba melepas hasrat tak terbantahkan melampaui akal sehatku, mencoba menaklukan kegilaanku.










0 komentar:
Posting Komentar