Rabu, 26 Mei 2010

Yang terlintas dihatiku


Sekian lama aku terkurung sepi, bahkan sampai kini aku masih menyendiri dalam lorong-lorong gelap di sudut hati yang kuciptakan sendiri. Hingga aku bertemu denganmu, sosok yang tak pernah ku duga akan mampu meluluhkan jiwaku yang beku. Meski aku sadar, belum sepenuhnya pintuhatimu mampu terbuka lebar untuk menyambutku. Maafkan aku.. maafkan karena telah muncul yang tak semestinya muncul di antara kita untuk saat ini. Aku tahu, kaupun tahu, dan kita memang telah saling mengetahui bahwa apa yang kita rasakan tak seharusnya kita pahami sekarang. Aku masih tak mengerti, mengapa waktu yang ada justru memberi kita ruang untuk saling mengetahui apa yang kita simpan selama ini. Ini kehendak-Nya.. aku tahu itu, tapi aku masih tetap berada pada singgasana ketakpahamanku tentang apa yang terjadi dalam hidup kita. Aku tak pernah menyangka dengan apa yang kita bicarakan. Kau tahu, aku di sini sendiri, hidup dengan duniaku yang sunyi. Kau juga tahu, aku masih belum mampu mengeluarkan diriku dari keterpurukanku. Namun kau tetap hadir, mungkin awalnya tak sebagai ini, aku bisa menerima. Tapi kini, mengapa aku munculkan yang belum ingin kau adakan di hatimu, sekarang? saat semuanya mulai semakin jelas bahwa yang kau kira selama ini tentangku memang tak melenceng sedikitpun..

Aku tak sanggup, bahkan untuk menyebutmu saja aku bingung. Apa pantas jika ku sebut engkau kasih? Sedang hatimu masih menolaknya dengan tegas, Kau masih jauh di ambang cakrawala penantianku yang panjang. Kau pun masih mengijinkanku terbang bebas mengarungi langit kehidupanku yang terbentang luas di atas sana. Di atas segala pandangan lebarku, kau juga masih mengijinkanku memilih, memilih siapa dan mana yang nantinya akan menjadi terbaik untukku. Ya.. aku masih belum memiilikmu seutuhnya, kau juga belum menjadi milikku seutuhnya. Apakah ini yang dinamakan ketulusan? apakah kau benar-benar tulus mencintai hatiku? hingga kau akan rela jika waktu ternyata tak mengijinkan kita untuk mempertahankan apa yang ada di hati dan jiwa kita saat ini..
Kau berpikir jauh, aku haru dan aku salut pada kedewasaanmu. Menyatukan dua hati tak semudah mengungkapkannya. Kita perlu kesamaan misi dan visi, tujuan, dan banyak hal lain. Aku paham, dan aku bisa menerimanya. Aku selalu berkata “biarkan ini mengalir seperti air, jika ada bebatuan menghalangi lajunya, jangan kau hempas, air itu akan tetap mengalir ke muaranya, percayalah”. Kau percaya.. dan akhirnya kita akan saling menjaga. Aku yakin, jika kita memang ditakdirkan untuk bersatu, jika aku adalah potongan tulang rusukmu, aku pasti akan berada disisimu. Kita hanya tinggal menunggu kehendak waktu..

Terima kasih atas perasaan hatimu, meski kini kita masih membatasinya..

Dan puisi ini akan ku persembahkan untukmu :

Duhai separuh hati yang Tuhan ciptakan untukku
aku menantimu
di sini..
di kediamanku yang abadi
dengan segala kesucian yang ku simpan untukmu
aku merindumu
menunggumu
dengan segenap kesabaranku
dan ku hias pintu-pintu hatiku
dengan bentuk kasih yang terindah
yang hanya akan ku persembahkan untukmu
untuk pasangan sayap
yang akan membawaku terbang ke dunia keindahan
kan ku abdikan seluruh hidupku untukmu karena-Nya
karena Dia yang memasangkan hati kita
pada sebuah bingkai cinta termanis
bertatahkan ketulusan dan kesetiaan
engkau yang akan menjadikan cinta itu tanpa syarat bagiku
dan aku akan terus setia menunggumu
hingga waktu itu tiba
waktu yang Tuhan ijinkan untuk kita bersatu

Untukmu Bidadari Kecilku di Virginia
.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites