Jakarta
17.34
"The way"
Aku selalu berada di depan meja kerjaku dengan pemandangan malam terlihat dari jendela kamarku yang selalu dan selalu berantakan, saat itu langit tampak bersih tanpa awan aku bisa melihat bintang berlomba berkilau diantara pekatnya malam di kotaku, sekali lagi aku menatap lebih dalam gugus bintang itu semua tetap indah, aku mengakui dari lubuk hatiku yang paling dalam…dan dalam malam yang indah itu pikiranku mulai menerawang yang tidak jelas memikirkan ini dan itu seperti orang bodoh…
Puas dengan khayalan-khayalanku yang bodoh akupun menutup jendela kamar kemudian menyandarkan kepalaku ditembok kamar ini..aku seakan ingin mendengarkan bisikan mereka padaku diantara kehampaan demi kehampaan yang selalu kulalui bersama kamar ini.. aku menilik semua kesedihanku semua hal yang kuanggap menjadi masalah dalam hidupku, kenapa harus seperti ini dan itu, kenapa harus aku yang selalu terluka, kenapa harus aku yang menjadi lemah..? pertanyaan itu seakan bangkit dari kematian atau lebih tepatnya kembali dari masa ‘diabaikan’….
.
Malam itu aku mencoba mengartikan masalah hanyalah sebuah ‘jalan’ aku mengartikannya secara sepintas bahwa masalah yang harus ada dalam hidupku adalah sebuah ‘jalan’ tuk aku menemukanmu…menemukan seorang yang bisa mendengar keluhanku, seorang yang memberikan pundaknya tuk bersandar dan menangis, seorang yang menghapus airmata yang jatuh disudut pipiku…tanpa ada masalah aku selalu merasa hebat dan tidak memerlukan seorangpun..karena aku merasa kuat… namun saat masalah itu datang…aku seakan berada dalam hujan badai yang begitu hebat yang akhirnya membuatku terjatuh dan tak sadarkan diri..
Seperti hujan yang mendahului indahnya lengkungan pelangi….hujan memberikanku ‘jalan’ tuk memandang pelangi, langit biru dan udara segar setelah tetes hujan yang terakhir…
.










0 komentar:
Posting Komentar